Rabu, 14 April 2010

* Susunan Acara Siraman

Berikut adalah rundown acara Siraman secara lengkap menurut adat Jawa. Dalam prosesi pernikahan adat Jawa, biasanya sehari sebelum berlangsungnya akad nikah dan panggih, kedua calon mempelai mengadakan acara pengajian dan siraman di kediaman masing-masing mempelai.

Acara pengajian tentunya bertujuan untuk memohon doa restu kepada Allah SWT agar semua rangkaian acara pernikahan dapat berlangsung dengan lancar. Setelah acara pengajian, serangkaian upacara adat Siraman dimulai. Sebelum upacara inti Siraman dimulai, biasanya didahului dengan upacara pemasangan Blakatepe dan Tuwuhan. Pada upacara pemasangan Blaketepe dan Tuwuhan ini perlengkapan utama yang harus disiapkan adalah tangga dan baki berisi padi:

PASANG BLAKETEPE

Merupakan tradisi membuat ’blaketepe’ atau anyaman daun kelapa untuk dijadikan atap atau peneduh resepsi manton. Tatacara ini mengambil ’wewarah’ atau ajaran Ki Ageng Tarub, salah satu leluhur raja-raja Mataram. Saat mempunyai hajat menikahkan anaknya Dewi Nawangsih dengan Raden Bondan Kejawan, Ki Ageng membuat peneduh dari anyaman daun kelapa. Hal itu dilakukan karena rumah Ki Ageng yang kecil tidak dapat memuat semua tamu, sehingga tamu yang diluar rumah diteduhi dengan payon daun kelapa itu.

Dengan diberi ’payon’ itu ruang yang dipergunakan untuk para tamu Agung menjadi luas dan menampung seluruh tamu. Kemudian payon dari daun kelapa itu disebut ’tarub’, berasal dari nama orang uang pertama membuatnya. Tatacara memasang tarub adalah bapak naik tangga sedangkan ibu memgangi tangga sambil membantu memberikan ’blaketepe’ (anyaman daun kepala).

Tatacara ini menjadi perlambang gotong royong kedua orang tua yang menjadi pengayom keluargaPasang Padi (melengkapi tuwuhan)

PASANG PADI (melengkapi Tuwuhan)

Saudara kandung pengantin wanita membawa baki berisi padi. Padi ini akan dipasang oleh kedua orang tua Calon Pengantin Wanita pada tuwuhan yang sudah di pasang pada pintu gerbang rumah.

Tuwuhan mengandung arti suatu harapan kepada anak uang dijodohkan dapat memperoleh keturunan, untuk melangsungkan sejarah keluarga .

Tuwuhan terdiri dari :

  • Pohon pisang raja yang buahnya sudah masak

Maksud dipilih pisang yang sudah masak adalah diharapkan pasangan yang akan menikah telah memiliki pemikiran dewasa atau telah masak. Sedangkan pisang raja mempunyai makna pengharapan agar pasangan yang akan dinikahkan kelak mempunyai kemakmuran, kemuliaan dan kehormatan seperti raja.

  • Tebu wulung

Tebu wulung berwarna merah tua sebagai gambaran tuk-ing memanis atau sumber rasa manis. Hal ini melambangkan kehidupan yang serba enak. Sedangkan makna wulung bagi orang Jawa berarti sepuh atau tua. Setelah memasuki jenjang perkawinan, diharapkan kedua mempelai mempunyai jiwa sepuh yang selalu beryindak dengan ’kewicaksanaan’ atau kebijakan

  • Cengkir Gadhing

Merupakan simbol dari kandungan tempat jabang bayi atau lambang keturunan

  • Daun randu dan pari sewuli

Randu melambangkan sandang, sedangkan pari melambangkan pangan. Sehingga hal itu bermakna agar kedua mempelai selalu tercukupi sandang dan pangannya.

  • Godhong apa-apa (bermacam-macam dedaunan)

Seperti daun beringin yang melambangkan pengayoman, rumput alang-alang dengan harapan terbebas dari segala halangan.

Setelah upacara pasang Blaketepe dan Tuwuhan selesai, selanjutnya adalah prosesi Siraman. Perlengkapan yang perlu disiapkan pada prosesi siraman ini antara lain adalah :

  • Pencampuran air siraman yang meliputi kembang setaman dan air untuk memandikan. Air siraman ini berasal dari 7 mata air yang berbeda. Dan untuk yang muslim biasanya memasukkan Air Zam-Zam sebagai salah satu dari 7 mata air tersebut.
  • Siapkan 2 meja pendek seperti yang ada pada ruang tamu di dekat pemandian. Meja tersebut untuk meletakkan : Kain, Handuk dan Kimono serta Ubo Rampe . Kain, Handuk dan Kimono sebaiknya mempunyai warna yang senada, katanya sih biar enak dilihat ;)
  • Klenting tempat air kembang setaman
  • Kelapa yang dibelah untuk gayung mandi
  • Siapkan 2 meja katering dan sudah dihias. Meja tersebut untuk meletakkan
    • Tumpeng Robyong (tambahan perlengkapan dalam acara potong tumpeng : 1 baki yang diisi 1 piring, sepasang sendok garpu, centong dan pisau. Centong dan Pisau dihias oleh Pita). Hehe kenapa di Pita-in kalau kata bu Hesti sih, sebelum acara dimulai biasanya perlengkapan di shoot sama seksi liputan dan dokumentasi. Jadi biar kelihatan cantik. ;)
    • Dodol Dawet.

Setelah perlengkapan siraman lengkap. Kemudian dimulailah rangkaian upacara Siraman seperti berikut :
Pengiriman Air Perwito Adi ke CPP

Setelah air siraman dicampur di kediaman CPW. Dilakukan pengiriman air perwito adi ke kediaman CPP. Keluarga CPW mengirimkan 2 wakil (2 pasang suami istri) yang ditugaskan untuk menjadi wakil keluarga CPW dalam mengirimkan air perwito adi ke kediaman CPP.

Duta keluarga CPW ini akan menghadap orang tua CPP, dan menjadi saksi telah dilaksanakannya upacara siraman di kediaman CPP. Setelah CPP selesai melakukan siraman dan Potong Rikmo, potongan rambut CPP akan dibawah kembali ke kediaman CPW oleh Duta keluarga CPW.

Sungkeman / Pangabekten

Sebelum melakukan siraman calon pengantin harus melakukan sungkeman kepada Bapak dan Ibu pengantin. Pada acara sungkeman ini menunjukkan tanda bakti seorang anak kepada orang tua dan dan sekaligus menjadi ajang mencurahkan rasa terima kasih dan permohonan maaf dan doa restu seorang anak kepada orang tua nya.

Biasanya pada saat sungkeman ini suasana lumayan mengharu biru. Dan pasti calon pengantin dan orang tua akan banjir air mata. Huhuhuhu..

Teks upacara sungkeman ini dapat diunduh disini ya : teks-sungkeman-sebelum-siraman

Siraman

Siraman dilaksanakan untuk menyucikan diri dan juga membuang segala kejelekan Calon Pengantin yang ada, agar calon pengantin dapat memulai hidup baru dengan hati yang bersih dan suci. Siraman dilakukan oleh 9 orang sesepuh termasuk sang Ayah. Jumlah sembilan tersebut menurut budaya Keraton Surakarta untuk mengenang keluhuran Wali Sanga, yang bermakna manunggalnya Jawa dengan Islam. Selain itu angka sembilan juga bermakna ’babahan hawa sanga’ yang harus dikendalikan.

Siraman pertama kali dilakukan oleh Bapak calon pengantin dan diikuti oleh Ibu calon pengantin. Setelah Bapak Ibu selesai melakukan siraman baru ketujuh pini sepuh yang melakukan siraman. Untuk calon pengantin wanita, pini sepuh yang melakukan siraman haruslah berjenis kelamin wanita. Sedangkan untuk calon pengantin pria, pini sepuh yang melakukan siraman haruslah berjenis kelamin pria.

Setelah pini sepuh selesai melakukan siraman. Bapak calon pengantin menuangkan air kendil dan memandu calon pengantin untuk melakukan wudhu. Setelah selesai, ibu pengantin menutup dengan menyiram air kendil. Dan kemudian kendil dijatuhkan sampai pecah sambil mengucap:

NIAT INGSUN ORA MECAH KENDI, NANGIN MECAH PAMORE ANAKKU

Potong Rikmo

Setelah selesai siraman, kemudian dilakukan prosesi potong rikmo / potong rambut. Potongan rambut kedua calon mempelai akan disatukan pada upacara Tanem Rikmo. Biasanya upacara Tanem Rikmo dilakukan setelah wakil keluarga CPW kembali dari kediaman CPP.

Dodol Dawet

Jual Dawet diambil makna dari cendol yang berbentuk bundar merupakan lambang kebulatan kehendak orang tua untuk menjodohkan anak. Bagi orang yang akan membeli dawet tersebut harus membayar dengan ’kreweng’ (pecahan genting) bukan dengan uang. Hal itu menunjukkan bahwa kehidupan manusia berasal dari bumi. Yang melayani pembeli adalh ibu sedangkan yang menerima pembayaran adalah bapak. Hal ini mengajarkan kepada anak mereka yang akan menikah tentang bagaimana mencari nafkah sebagai suami istri, harus saling membantu.

Dawet ini juga sebagai simbolisasi kalau esok hari pada saat akad nikah dan resepsi, tamu-tamu yang datang akan sebanyak dan seramai cendol dawet tersebut. Hihi.. ;)

Potong Tumpeng Kamulyan

Bapak calon pengantinmemotong tumpeng Kamulyan dan diberikan ke Ibu calon pengantin. Potongan tumpeng tersebut yang akan disuapi kepada calon pengantin pada saat acara Dulangan Kapungkasan.

Dulangan Kapungkasan

Suapan terakhir calon pengantin dari orang tuanya. Calon pengantin duduk diapit orang tua. Sebelum upacara Dulang Kapungkasan, Bapak calon pengantin menyerahkan hasil penjualan dawet kepada calon pengantin.

Kembul Bujono Ondrowino

Santap siang/sore bersama dengan tamu yang hadir

Pelepasan Ayam

Orang tua sudah setulus-tulusnya dan se ikhlas-ikhlasnya melepas putrinya untuk hidup mandiri. Bagaikan anak Ayam yang begitu dilepas sudah dapat mencari/ mengais makanan sendiri. Diharapkan untuk ke depannya putrinya dapat hidup mandiri dan dapat memperoleh rejeki yang luas dan barokah.

Hehe.. begitulah kurang lebih susunan Acara Siraman adat Jawa. Selanjutnya akan aku ulas lengkap mengenai susunan acara Malam Midodareni, Akad Nikah, Panggih serta Resepsi. Hihihi.. ;)

0 comments:

Poskan Komentar